65 Macam Tanaman Obat di Halaman Rumah: Kisah Nek Anjang Minah Menjaga Warisan Pengobatan Tradisional Melayu
Teluk Majelis, 22 Juni 2020 — Di tengah derasnya arus modernisasi dan semakin mudahnya masyarakat memperoleh obat-obatan pabrikan, pengetahuan tentang tumbuhan obat tradisional perlahan mulai tersisih. Namun di Teluk Majelis, Kecamatan Kuala Jambi, masih ada sosok yang setia menjaga warisan pengetahuan tersebut. Ia adalah Nek Anjang Minah, seorang perempuan lanjut usia yang selama puluhan tahun mengumpulkan, menanam, dan memanfaatkan berbagai jenis tanaman obat yang tumbuh di lingkungan sekitarnya.
Nek Anjang Minah saat didatangi oleh tim menjelaskan koleksi tanaman obat yang ia punyai
Bagi masyarakat sekitar, Nek Anjang Minah bukan sekadar warga biasa. Ia dikenal sebagai tempat bertanya ketika seseorang ingin mengetahui khasiat tumbuhan tertentu, mencari ramuan tradisional, atau sekadar mengenal nama-nama tanaman yang dahulu akrab dipakai oleh generasi terdahulu.
Dalam wawancara yang dilakukan pada 22 Juni 2020, Nek Anjang Minah berbagi cerita tentang puluhan jenis tanaman obat yang ia pelihara, pengalaman menerima peneliti dari berbagai daerah, serta kegelisahannya melihat semakin sedikit orang yang memahami pengetahuan pengobatan tradisional Melayu.
Halaman Rumah yang Menjadi Kebun Pengetahuan
Ketika ditanya mengenai tanaman yang ia miliki, Nek Anjang Minah langsung menunjukkan berbagai tumbuhan yang ditanam di sekitar rumahnya. Sebagian merupakan tanaman yang sengaja dipindahkan dari tempat lain agar lebih mudah dirawat dan diperlihatkan kepada para tamu yang datang belajar.
Kulit kayu perepat, salah satu koleksi simplisia Nek Anjang Minah
Ia menyebut bahwa di halamannya terdapat beragam tanaman seperti kunyit putih, temu lawak, temu putih, temu kunci, sambiloto, lidah buaya, jarak, kecubung, hingga berbagai tanaman yang dikenal masyarakat sebagai obat rumahan. Bahkan menurut pengakuannya, koleksi tanaman obat yang pernah ia susun mencapai sekitar 65 jenis tanaman obat.
Baginya, setiap tanaman memiliki cerita dan kegunaannya sendiri. Kunyit putih misalnya dipercaya masyarakat dapat dipakai dalam ramuan untuk berbagai penyakit serius. Temu kunci dikenal sebagai obat cacing. Sambiloto terkenal karena rasanya yang pahit dan sering dimanfaatkan sebagai bahan ramuan.
“Penuh tanaman ubat. Enam puluh lima macam,” tuturnya ketika menjelaskan koleksi tanaman yang pernah ia susun dan beri penanda agar mudah dikenali pengunjung. Kebun kecil di halaman rumah itu pada dasarnya bukan hanya tempat menanam tumbuhan. Ia telah menjadi ruang penyimpanan pengetahuan lokal yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.
Menjadi Rujukan Peneliti dan Mahasiswa
Pengetahuan Nek Anjang Minah ternyata tak hanya menarik perhatian warga sekitar. Ia mengaku beberapa kali didatangi oleh peneliti, mahasiswa, bahkan tamu dari luar daerah yang ingin mempelajari tumbuhan obat tradisional.
Dalam perbincangan tersebut, ia mengingat kedatangan peneliti yang mencatat berbagai jenis daun dan kegunaannya. Mereka tak hanya bertanya mengenai nama tumbuhan, tetapi juga cara pengolahan, bagian tanaman yang dipakai, hingga pengalaman masyarakat dalam memanfaatkannya.
Menurut Nek Anjang Minah, banyak peneliti tertarik karena sebagian informasi mengenai tumbuhan obat hanya tersimpan dalam ingatan para orang tua di kampung. Tidak sedikit tanaman yang tumbuh liar di sekitar Teluk Majelis tetapi belum dikenal luas di luar daerah.
“Orang-orang datang, dicatat daun ini kegunaannya apa,” kenangnya. Kunjungan para peneliti itu sekaligus menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat lokal memiliki nilai penting, baik untuk kajian etnobotani maupun pengembangan penelitian ilmiah.
Dari Daun Inai hingga Daun Senduduk
Salah satu hal menarik dari wawancara tersebut adalah banyaknya informasi mengenai pemanfaatan tumbuhan yang masih diingat dengan baik oleh Nek Anjang Minah.
Ia menjelaskan bahwa daun inai, yang selama ini lebih dikenal sebagai bahan pewarna kuku dan rambut, juga dipakai dalam ramuan tradisional tertentu. Dalam praktik pengobatan masyarakat, daun inai dicampur bersama beberapa tanaman lain seperti daun beluntas dan daun senduduk untuk membuat ramuan.
Sementara itu, daun senduduk juga disebut memiliki berbagai manfaat. Selain dipakai dalam ramuan tertentu, tanaman ini dipercaya masyarakat dapat membantu mengatasi tekanan darah tinggi.
Pengetahuan seperti ini tidak berasal dari buku atau pendidikan formal. Sebaliknya, ia terbentuk dari pengalaman panjang masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam.
“Orang tua dulu yang ngajarkan,” demikian gambaran umum yang tercermin dari berbagai penjelasan Nek Anjang Minah selama wawancara.
Jarak, Kepayang, dan Rahasia Rambut Hitam
Dalam percakapan itu, tanaman jarak menjadi salah satu topik yang cukup panjang dibahas. Menurut Nek Anjang Minah, terdapat beberapa jenis jarak dengan kegunaan berbeda-beda.
Ia menyebut bahwa masyarakat memanfaatkan daun maupun buah jarak untuk berbagai keperluan. Salah satu penggunaan yang paling sering disebut adalah sebagai bahan untuk menghitamkan rambut.
Selain jarak, ia juga menyinggung buah kepayang atau keluak. Menurut pengetahuan tradisional yang ia ketahui, buah tersebut dapat diolah menjadi minyak yang dipakai untuk perawatan rambut. Bahkan masyarakat dahulu juga memanfaatkannya sebagai bahan penghitam alami.
Cerita-cerita semacam ini memperlihatkan bahwa tumbuhan bagi masyarakat Melayu pesisir bukan hanya sumber pangan atau obat, tetapi juga bagian dari perawatan tubuh sehari-hari.
Obat Kulit dari Alam Sekitar
Masalah penyakit kulit juga menjadi salah satu topik yang sering muncul dalam wawancara. Menurut Nek Anjang Minah dan keluarganya, beberapa tanaman dipakai secara turun-temurun untuk mengatasi gangguan kulit tertentu. Untuk panau misalnya, masyarakat mengenal daun gelinggang sebagai salah satu bahan pengobatan tradisional.
Sementara itu, buah pinang merah disebut dapat diolah menjadi ramuan untuk mengatasi penyakit kulit dengan cara tertentu. Ada pula tanaman yang mereka sebut sebagai sebulu, yang dipercaya bermanfaat untuk masalah kulit.
Walaupun sebagian klaim tersebut belum tentu telah diuji secara ilmiah menurut standar medis modern, informasi tersebut tetap menjadi bagian penting dari warisan pengetahuan masyarakat yang layak didokumentasikan.
Kunyit, Ramuan Sederhana untuk Luka
Ketika ditanya mengenai tanaman untuk mengobati luka, jawaban yang muncul justru sangat sederhana.
“Kunyit,” sahut Nek Anjang Minah tanpa ragu.
Menurut penjelasan keluarganya, kunyit ditumbuk lalu diambil airnya untuk dibalurkan pada bagian yang terluka. Tidak diperlukan campuran lain. Bagi mereka, kunyit sudah cukup sebagai bahan utama dalam pengobatan tradisional luka ringan.
Praktik seperti ini masih dapat ditemukan di berbagai daerah di Nusantara, menunjukkan betapa luasnya penggunaan kunyit dalam budaya pengobatan tradisional masyarakat Indonesia.
Pengetahuan yang Mulai Hilang
Di balik banyaknya cerita tentang tanaman obat, terselip pula kegelisahan yang berulang kali disampaikan oleh Nek Anjang Minah. Ketika ditanya apakah masih banyak orang yang memiliki pengetahuan serupa di Teluk Majelis, ia menjawab singkat bahwa jumlahnya sudah semakin sedikit. Banyak warga masih menanam bunga atau tanaman hias, tetapi tidak lagi menanam tanaman obat sebagaimana generasi sebelumnya.
Menurutnya, sebagian besar orang kini lebih memilih membeli obat di toko atau apotek dibandingkan memanfaatkan tanaman yang tersedia di sekitar rumah. Perubahan itu membuat banyak pengetahuan tradisional perlahan terlupakan. Nama-nama tumbuhan yang dahulu akrab di telinga masyarakat kini hanya dikenal oleh segelintir orang tua.
“Orang tua lah yang tahu,” katanya ketika membahas beberapa tanaman yang semakin sulit dikenali generasi muda.
Kalimat sederhana tersebut mengandung pesan yang mendalam. Ia menunjukkan adanya jurang pengetahuan antar-generasi yang semakin lebar.
Cakap Setempat dan Tantangan Identifikasi Tumbuhan
Persoalan lain yang muncul dalam wawancara adalah perbedaan nama tumbuhan. Banyak tanaman memiliki nama lokal yang berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Bahkan dalam satu kabupaten sekalipun, satu tanaman bisa dikenal dengan beberapa nama yang berlainan. Karena itu, para peneliti sering mengalami kesulitan ketika mencoba mencocokkan nama lokal dengan nama ilmiah.
Nek Anjang Minah sendiri mengakui bahwa beberapa tanaman yang ia kenal memiliki sebutan berbeda dalam bahasa Indonesia ataupun bahasa daerah lain. Karena itulah pengumpulan sampel tanaman untuk diidentifikasi secara ilmiah menjadi langkah penting.
Masalah nomenklatur ini merupakan tantangan besar dalam kajian etnobotani. Banyak informasi lokal yang berisiko hilang jika tidak segera didokumentasikan secara sistematis.
Hubungan Masyarakat Melayu dengan Alam
Dari keseluruhan wawancara, tampak jelas bahwa hubungan masyarakat Melayu pesisir dengan alam bukanlah hubungan yang bersifat eksploitatif semata.
Tumbuhan dipandang sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Ada tanaman untuk pangan, untuk obat, untuk ritual, bahkan untuk perawatan tubuh. Setiap tumbuhan memiliki tempatnya masing-masing dalam budaya masyarakat.
Pengetahuan tersebut tidak lahir dari laboratorium. Ia lahir dari pengalaman panjang berinteraksi dengan lingkungan selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Karena itu, ketika satu generasi kehilangan pengetahuan tentang tumbuhan, yang hilang bukan hanya informasi mengenai obat tradisional. Yang hilang adalah sebagian cara pandang masyarakat terhadap alam.
Menjaga Warisan yang Tak Tertulis
Kisah Nek Anjang Minah menunjukkan bahwa perpustakaan pengetahuan tidak selalu berbentuk buku atau gedung besar. Kadang-kadang, perpustakaan itu hadir dalam ingatan seorang nenek yang menghabiskan hidupnya menanam dan merawat tumbuhan di halaman rumah.
Di tengah kemajuan ilmu pengetahuan modern, pengetahuan tradisional tidak harus dipertentangkan dengan sains. Sebaliknya, keduanya dapat saling melengkapi. Pengetahuan lokal dapat menjadi titik awal bagi penelitian ilmiah, sementara sains dapat membantu menguji dan memahami manfaat tumbuhan secara lebih mendalam. Namun sebelum itu terjadi, pengetahuan tersebut harus terlebih dahulu diselamatkan dari ancaman kepunahan.
Wawancara dengan Nek Anjang Minah menjadi pengingat bahwa masih banyak kekayaan pengetahuan yang tersimpan di kampung-kampung pesisir Jambi. Pengetahuan itu mungkin tidak tercatat dalam buku pelajaran, tetapi hidup dalam cerita, pengalaman, dan praktik sehari-hari masyarakat. Dan selama masih ada orang seperti Nek Anjang Minah yang bersedia berbagi cerita, warisan itu belum sepenuhnya hilang. Sebaliknya, ia masih menunggu untuk didengar, dicatat, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.


Komentar