Menjaga Danau Sipin, Menjaga Masa Depan: Suara Warga Buluran Kenali tentang Lingkungan dan Harapan Perubahan
Di tengah pesatnya perkembangan Kota Jambi, masih terdapat kawasan-kawasan yang mempertahankan hubungan erat antara masyarakat dan lingkungan alamnya. Salah satunya adalah Buluran Kenali, sebuah kawasan di tepian Danau Sipin yang selama puluhan tahun menjadi tempat tinggal sekaligus sumber penghidupan bagi banyak warga.
Pada 21 Juli 2025, Komunitas Sambil Jalan, sebuah komunitas yang bergerak dalam bidang kepedulian lingkungan dan kebersihan masyarakat, melakukan serangkaian wawancara dengan warga Buluran Kenali. Wawancara ini dilakukan untuk menggali pandangan masyarakat mengenai kondisi lingkungan yang mereka hadapi sehari-hari, mulai dari persoalan banjir, kualitas perairan, hingga tantangan menjaga kelestarian kawasan danau yang menjadi bagian penting kehidupan mereka.
Danau Sipin dilihat dari Kelurahan Buluran Kenali
Dalam kesempatan tersebut, tim berbincang dengan Rusdi, warga asli Buluran Kenali; Nasrul, warga yang telah menetap di kawasan tersebut selama beberapa tahun; serta Ketua RT 03 Buluran Kenali yang sehari-hari berinteraksi langsung dengan berbagai persoalan masyarakat setempat. Dari ketiga narasumber tersebut muncul gambaran yang menarik mengenai bagaimana warga memandang lingkungan mereka, perubahan yang terjadi selama bertahun-tahun, serta harapan yang mereka simpan untuk masa depan.
Buluran Kenali dan Kedekatannya dengan Danau Sipin
Bagi masyarakat Buluran Kenali, Danau Sipin bukan sekadar pemandangan yang menghiasi lingkungan tempat tinggal mereka. Danau ini telah menjadi bagian dari kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat selama beberapa generasi.
Panji bersama warga kelurahan Buluran Kenali
Rusdi, yang lahir dan besar di Buluran Kenali sejak tahun 1986, menjelaskan bahwa kehidupan masyarakat di kawasan tersebut tidak pernah benar-benar terpisah dari danau. Banyak warga yang dahulu menggantungkan hidup dari aktivitas perikanan maupun berbagai kegiatan yang berhubungan dengan perairan. Namun menurutnya, kondisi saat ini tidak lagi sama seperti dahulu.
"Airnya tidak bisa dipakai, airnya tu kotorlah," ungkap Rusdi ketika menjelaskan kondisi perairan yang kini dianggap tidak lagi layak digunakan sebagaimana masa lalu. Ia juga menambahkan bahwa hasil perikanan yang diperoleh masyarakat tidak lagi sebanyak dulu.
Pandangan yang hampir sama disampaikan oleh Ketua RT 03 Buluran Kenali. Menurutnya, dalam satu dekade terakhir kualitas lingkungan perairan mengalami penurunan yang cukup terasa. Salah satu indikator yang paling jelas adalah semakin berkurangnya produktivitas keramba jaring apung yang dahulu menjadi sumber penghasilan banyak keluarga.
Ia menjelaskan bahwa sebagian besar masyarakat di kawasan tersebut dahulu memelihara ikan nila, gurami, maupun ikan mas melalui sistem keramba jaring apung. Namun seiring waktu, kondisi perairan mengalami perubahan. Endapan lumpur yang bercampur dengan sisa pakan ikan dan kotoran hasil budidaya menyebabkan kualitas air memburuk dan meningkatkan kadar zat yang berbahaya bagi ikan. Akibatnya, budidaya ikan nila yang sebelumnya menjadi andalan masyarakat mulai mengalami banyak kendala. Banyak keramba yang kini tidak lagi digunakan dan dibiarkan kosong.
Bagi masyarakat yang telah lama tinggal di sekitar danau, perubahan tersebut bukan sekadar data atau angka statistik. Mereka melihat dan merasakan sendiri bagaimana lingkungan yang dahulu menopang kehidupan kini menghadapi berbagai tekanan.
Banjir yang Menjadi Langganan Tahunan
Selain persoalan kualitas air, isu lain yang hampir selalu muncul dalam percakapan dengan warga adalah banjir. Ketua RT 03 menjelaskan bahwa wilayah Buluran Kenali memang merupakan kawasan yang sejak lama dikenal sebagai daerah rawan genangan. Menurutnya, hampir setiap tahun banjir datang, meskipun tingkat keparahannya berbeda-beda. Ada kalanya air hanya mencapai batas jalan, namun pada tahun-tahun tertentu genangan bisa lebih tinggi dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Rusdi memiliki pengalaman yang lebih dramatis. Ia menceritakan bahwa ketika banjir besar datang, akses jalan bisa terputus sepenuhnya. Kendaraan tidak dapat digunakan dan warga terpaksa beralih menggunakan sampan untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
"Banjirnya itu, membuat sampai tidak bisa berjalan, akses tersendat, motor tidak bisa berjalan, hari-hari jadinya mamakai sampan," tuturnya.
Sementara itu, Nasrul juga mengungkapkan bahwa banjir merupakan kejadian yang hampir rutin terjadi setiap tahun. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, banjir dapat terjadi lebih dari sekali dalam setahun dan menyebabkan jalan lingkungan terendam.
Menariknya, meskipun banjir menjadi persoalan yang cukup serius, sebagian warga tampak telah beradaptasi dengan kondisi tersebut. Banjir dianggap sebagai bagian dari realitas hidup di tepian danau. Namun bukan berarti masyarakat menerimanya tanpa keluhan. Banyak warga berharap adanya perbaikan infrastruktur, terutama peninggian jalan dan penataan drainase yang lebih baik agar dampak banjir dapat dikurangi.
Ketika Isu Lingkungan Global Terasa Jauh
Salah satu temuan menarik dari wawancara ini adalah bagaimana masyarakat memandang isu lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika ditanya mengenai perubahan iklim dan polusi karbon, sebagian besar narasumber mengaku belum terlalu memahami persoalan tersebut. Ketua RT memperkirakan bahwa hanya sebagian kecil masyarakat yang memiliki pemahaman mengenai isu perubahan iklim dan pencemaran karbon.
Rusdi bahkan secara lugas menyatakan bahwa sebagian besar warga belum memahami persoalan tersebut. Hal serupa disampaikan oleh Nasrul yang mengaku tidak begitu mengetahui isu perubahan iklim maupun polusi karbon dioksida.
Temuan ini menunjukkan bahwa terdapat jarak antara diskusi lingkungan yang sering berkembang di tingkat nasional maupun internasional dengan pengalaman sehari-hari masyarakat di tingkat lokal. Bagi warga Buluran Kenali, persoalan lingkungan yang paling nyata bukanlah istilah-istilah ilmiah yang sering muncul dalam berbagai forum, melainkan banjir yang datang setiap tahun, air danau yang semakin kotor, serta tumbuhan liar yang terus memenuhi permukaan perairan.
Dari pengalaman langsung itulah kesadaran lingkungan masyarakat sebenarnya terbentuk. Mereka mungkin tidak menggunakan istilah "perubahan iklim" atau "degradasi ekosistem", tetapi mereka memahami bahwa kondisi lingkungan di sekitar mereka telah berubah dibandingkan masa lalu.
Eceng Gondok yang Terus Bertambah
Di antara berbagai persoalan lingkungan yang disebutkan warga, keberadaan eceng gondok menjadi salah satu yang paling sering muncul. Tanaman yang tumbuh mengapung di permukaan air ini telah menjadi pemandangan sehari-hari di sebagian kawasan Danau Sipin. Bagi sebagian orang, hamparan hijau eceng gondok mungkin tampak indah. Namun bagi warga yang hidup berdampingan dengannya setiap hari, keberadaan tanaman ini justru sering dianggap sebagai gangguan.
Rusdi menyebut bahwa eceng gondok dapat tumbuh sangat cepat hingga mengganggu pemandangan dan menutupi sebagian permukaan perairan apabila tidak dibersihkan secara rutin. Nasrul juga menyampaikan pandangan serupa. Menurutnya, jika tidak dibersihkan secara berkala, eceng gondok akan terus berkembang dan memenuhi kawasan danau. Oleh karena itu, warga kerap diajak bergawai bersama untuk membersihkannya.
Ketua RT 03 mengakui bahwa masyarakat memang merasa terganggu dengan keberadaan eceng gondok dalam jumlah besar. Meski demikian, hingga saat ini tanaman yang berhasil dibersihkan umumnya hanya dibuang dan dianggap sebagai sampah. Belum ada upaya yang benar-benar berkelanjutan untuk memanfaatkan eceng gondok menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.
Kondisi ini menunjukkan adanya potensi yang masih belum tergarap. Sesuatu yang selama ini dianggap sebagai masalah oleh masyarakat sebenarnya dapat menjadi peluang apabila terdapat pengetahuan, teknologi, dan pendampingan yang memadai.
Keterbukaan terhadap Inovasi dan Program Masyarakat
Meskipun sebagian besar warga mengaku belum pernah mengikuti program pengolahan limbah tanaman, energi alternatif, atau teknologi lingkungan, mereka menunjukkan sikap yang cukup terbuka terhadap berbagai gagasan baru. Namun terdapat satu syarat penting yang berulang kali muncul dalam wawancara: masyarakat ingin melihat manfaat nyata.
Nasrul menekankan bahwa warga akan menyambut baik suatu program apabila program tersebut dapat memberikan dampak langsung kepada masyarakat, termasuk membuka peluang kerja bagi warga sekitar. Menurutnya, masyarakat akan lebih mudah terlibat apabila mereka merasakan bahwa kegiatan tersebut membawa manfaat yang jelas bagi kehidupan sehari-hari.
Rusdi juga memiliki pandangan yang hampir sama. Ia menyatakan bahwa selama suatu program tidak mengganggu masyarakat dan mampu memberikan manfaat ekonomi, warga akan mendukung pelaksanaannya. Bahkan ia berharap berbagai program yang masuk ke Buluran Kenali dapat berkembang menjadi usaha masyarakat yang berkelanjutan dan membuka lapangan pekerjaan baru.
Sementara itu, Ketua RT menyoroti pentingnya memahami kondisi sosial ekonomi masyarakat. Menurutnya, sebagian besar warga berada pada tingkat ekonomi menengah ke bawah sehingga keterlibatan mereka dalam suatu kegiatan sangat dipengaruhi oleh manfaat yang dapat dirasakan secara langsung. Jika sebuah kegiatan dianggap hanya menghabiskan waktu tanpa hasil yang jelas, partisipasi masyarakat akan sulit dibangun.
Pernyataan-pernyataan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Buluran Kenali bukanlah kelompok yang menolak perubahan. Sebaliknya, mereka cukup terbuka terhadap berbagai inovasi selama inovasi tersebut mampu menjawab keperluan nyata yang mereka hadapi.
Harapan dari Tepi Danau Sipin
Dari seluruh percakapan yang berlangsung pada hari itu, satu hal yang terasa sangat jelas adalah besarnya harapan masyarakat terhadap masa depan lingkungan mereka. Warga ingin melihat Danau Sipin kembali menjadi sumber kehidupan yang sehat. Mereka ingin lingkungan yang lebih bersih, perairan yang lebih terjaga, serta berkurangnya persoalan yang selama ini membayangi kehidupan sehari-hari.
Mereka juga berharap agar berbagai program yang datang ke masyarakat tidak berhenti pada tahap survei atau pengumpulan data semata. Seperti yang disampaikan Nasrul, masyarakat sering kali berharap setelah berbagai wawancara dan pengumpulan informasi dilakukan, akan ada tindak lanjut yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga. Harapan tersebut sesungguhnya sederhana: masyarakat ingin menjadi bagian dari perubahan, bukan sekadar objek yang diamati.
Wawancara yang dilakukan Komunitas Sambil Jalan pada 21 Juli 2025 ini menunjukkan bahwa di balik berbagai tantangan lingkungan yang dihadapi Buluran Kenali, terdapat modal sosial yang sangat penting: keterbukaan masyarakat untuk terlibat, gawai bersama yang masih hidup, dan keinginan untuk melihat lingkungan mereka menjadi lebih baik.
Bagi siapa pun yang ingin membangun program pemberdayaan lingkungan di kawasan ini, pesan dari warga Buluran Kenali cukup jelas. Mulailah dari persoalan yang mereka hadapi sehari-hari, libatkan masyarakat sebagai mitra, dan pastikan manfaatnya dapat dirasakan bersama. Karena pada akhirnya, menjaga lingkungan bukan hanya soal menyelamatkan alam, tetapi juga menjaga masa depan masyarakat yang hidup di dalamnya.
Wawancara Komunitas Sambil Jalan, 21 Juli 2025
Pewawancara: Panji Cakra Buana


Komentar