Jejak Perempuan Pengarang dalam Tradisi Riau-Lingga
Sejarah kesusastraan Melayu sering kali didominasi oleh nama-nama besar seperti Raja Ali Haji. Namun, jika kita menilik lebih dalam ke dalam lipatan sejarah Kerajaan Riau-Lingga pada abad ke-19, akan ditemukan jejak-jejak emas para perempuan pengarang yang tidak hanya piawai merangkai kata, tetapi juga berani menyuarakan keresahan sosial dan gagasan gender jauh sebelum istilah "feminisme" populer di Nusantara.
Pulau Penyengat, yang menjadi pusat intelektual dan kebudayaan Riau-Lingga, merupakan saksi bisu lahirnya karya-karya besar dari tangan perempuan. Tradisi kepengarangan ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari lingkungan yang memberikan ruang luas bagi intelektualitas tanpa memandang gender.
Akar Inklusivitas: Egalitarianisme dalam Kosmologi Melayu
Kehadiran perempuan dalam panggung kepengarangan Riau-Lingga bukanlah sebuah kebetulan historis yang berdiri sendiri. Ia berakar pada fondasi budaya Melayu yang secara tradisional memberikan ruang bagi kepemimpinan perempuan. Abdul Malik (2013) mencatat bahwa dalam budaya Melayu, kualitas kepemimpinan lebih diutamakan daripada gender [1]. Hal ini terbukti dari sejarah awal Bintan yang dipimpin oleh Wan Seri Beni, seorang penguasa perempuan yang sangat dicintai rakyatnya.
Inklusivitas ini berlanjut hingga masa keemasan Riau-Lingga. Sosok Engku Puteri Raja Hamidah, pemegang regalia (alat kebesaran) kerajaan, merupakan simbol kekuatan politik perempuan yang tak terbantahkan. Lingkungan istana yang menghargai intelektualitas ini menciptakan ekosistem yang memungkinkan perempuan untuk tidak hanya berpendidikan, tetapi juga berkarya. Di Penyengat, menulis bukan sekadar hobi, melainkan sebuah bentuk pengabdian kepada ilmu pengetahuan dan agama, sebuah tradisi yang diwariskan oleh keluarga besar Raja Ali Haji kepada anak cucunya, termasuk para perempuannya.
Raja Aisyah Sulaiman: Pionir Sastra Peralihan dan Kesadaran Gender
Sosok paling menonjol dalam tradisi ini adalah Raja Aisyah binti Raja Sulaiman (1869–1925). Sebagai cucu dari Raja Ali Haji, Aisyah tumbuh di lingkungan yang memuja literasi. Namun, ia tidak sekadar mengekor pada tradisi kakeknya. Aisyah diakui sebagai tokoh penting dalam masa transisi dari kesusastraan Melayu tradisional menuju kesusastraan modern.
Karyanya yang paling monumental, Syair Khadamuddin, merupakan sebuah terobosan naratif. Menurut analisis Anggraeni dan Wiyatmi (2018), syair ini bukan sekadar gubahan puisi untuk estetika semata, melainkan sebuah refleksi kritis atas posisi perempuan dalam masyarakat [2]. Melalui tokoh-tokohnya, Aisyah menyuarakan keresahan tentang keterbatasan ruang gerak perempuan akibat tradisi pingitan dan norma sosial yang kaku.
Dalam Hikayat Syamsul Anwar, Aisyah lebih jauh lagi mengeksplorasi tema-tema kemandirian. Ia menggambarkan perempuan yang memiliki ketegasan dalam menentukan pilihan hidup, sebuah gagasan yang sangat progresif untuk ukuran abad ke-19. Aisyah menggunakan pena sebagai alat untuk "merubuhkan tembok-tembok kokoh tradisi" yang dianggap tidak lagi relevan dengan perubahan zaman [3]. Ia adalah seorang feminis Melayu jauh sebelum istilah itu masuk ke dalam kamus sosiologi Nusantara.
Khatijah Terung: Keberanian Literasi Tubuh dan Seksualitas
Jika Raja Aisyah berbicara tentang struktur sosial dan politik, Khatijah Terung membawa diskursus literasi perempuan ke wilayah yang lebih privat namun revolusioner: kedaulatan tubuh dan seksualitas. Khatijah Terung, yang merupakan istri dari Raja Abdullah (putra Raja Ali Haji), menulis kitab berjudul Perhimpunan Gunawan bagi Laki-Laki dan Perempuan.
Kitab ini sering dijuluki sebagai "Kamasutra Melayu", namun dengan perbedaan mendasar: ia ditulis dari perspektif perempuan. Anggraeni dan Azrianti (2021) menjelaskan bahwa karya ini menunjukkan betapa terbukanya intelektualitas perempuan Riau-Lingga saat itu. Khatijah, yang juga dikenal sebagai seorang bomoh (praktisi pengobatan tradisional), memadukan pengetahuan medis tradisional dengan panduan hubungan suami-istri yang setara [4].
Keberanian Khatijah untuk menuliskan panduan seksualitas menunjukkan bahwa perempuan Melayu pada masa itu memiliki agensi atas tubuh mereka. Mereka bukan sekadar objek pasif, melainkan subjek yang memahami bahwa keharmonisan domestik berakar pada pengetahuan dan komunikasi yang setara antara laki-laki dan perempuan. Ini adalah bentuk literasi kesehatan reproduksi dan gender yang sangat maju pada masanya.
Ekosistem Intelektual: Rusydiah Klab dan Matba’at al-Riyawiyah
Keberhasilan para perempuan ini tidak lepas dari dukungan infrastruktur intelektual di Riau-Lingga. Keberadaan Rusydiah Klab, sebuah perkumpulan intelektual yang didirikan pada akhir abad ke-19, menjadi wadah diskusi bagi para penulis, baik laki-laki maupun perempuan. Meskipun keterlibatan perempuan dalam klub ini sering kali bersifat tidak langsung atau berada di balik tirai, pengaruh pemikiran modern yang berkembang di sana meresap ke dalam karya-karya mereka [4].
Selain itu, keberadaan mesin cetak Matba’at al-Riyawiyah di Pulau Penyengat memungkinkan karya-karya ini tersebar lebih luas. Literasi bukan lagi menjadi monopoli naskah tulisan tangan yang terbatas di lingkungan istana, tetapi mulai menyentuh publik yang lebih luas. Hal ini menciptakan budaya baca-tulis yang masif, di mana perempuan pengarang mendapatkan audiens dan pengakuan atas pemikiran mereka.
Sastra sebagai Benteng Perlawanan terhadap Kolonialisme
Konteks politik abad ke-19 dan awal abad ke-20 yang penuh tekanan dari pemerintah kolonial Belanda juga mewarnai tulisan-tulisan perempuan Riau-Lingga. Ketika Kerajaan Riau-Lingga dibubarkan secara sepihak oleh Belanda pada tahun 1911 (dan secara resmi pada 1913), sastra menjadi benteng terakhir pertahanan budaya.
Raja Aisyah Sulaiman, misalnya, memilih untuk hijrah ke Singapura dan kemudian ke Johor daripada hidup di bawah bayang-bayang kolonial. Dalam karya-karyanya, terdapat nada perlawanan yang halus namun tajam terhadap intervensi asing yang merusak tatanan adat dan martabat bangsa. Menulis bagi para perempuan ini adalah tindakan politik; sebuah upaya untuk mendokumentasikan identitas Melayu yang sedang terancam punah oleh mesin kolonialisme.
Gema Masa Kini: Dari Penyengat ke Sastra Modern
Jejak perempuan pengarang Riau-Lingga tidak berhenti sebagai artefak sejarah. Semangat mereka terus mengalir dalam nadi sastrawan perempuan Riau kontemporer. Penulis masa kini seperti Murparsaulian dan Alvi Puspita sering kali merujuk pada keteguhan para pendahulu mereka di Penyengat sebagai sumber inspirasi.
Dalam diskusi "Dawat Pena Puan Riau", terungkap bahwa aroma feminisme dan keresahan sosial yang ditiupkan oleh Raja Aisyah dan Khatijah Terung masih relevan hingga saat ini [5]. Tantangan yang dihadapi perempuan mungkin telah berubah bentuk, namun kebutuhan untuk menyuarakan keadilan, kedaulatan diri, dan kritik terhadap ketimpangan tetap sama.
Analisis Kritis: Mengapa Mereka Terlupakan dalam Kanon Nasional?
Pertanyaan besar yang muncul adalah mengapa nama-nama sehebat Raja Aisyah Sulaiman dan Khatijah Terung jarang muncul dalam buku teks sejarah sastra Indonesia di sekolah-sekolah? Sebagian besar diskursus sastra modern Indonesia dimulai dari era Balai Pustaka pada tahun 1920-an, yang secara tidak langsung meminggirkan pencapaian sastra di luar jalur kolonial tersebut.
Padahal, sebelum munculnya novel Azab dan Sengsara (1920), para perempuan di Riau-Lingga telah lebih dulu mengeksplorasi tema-tema emansipasi dan kritik sosial melalui bentuk syair dan hikayat. Pengabaian ini merupakan kerugian besar bagi sejarah intelektual bangsa. Mengakui peran perempuan pengarang Riau-Lingga berarti mendefinisikan ulang akar modernitas Indonesia—bahwa modernitas tidak selalu datang dari Barat melalui pendidikan kolonial, tetapi juga lahir secara organik dari rahim intelektualitas lokal yang religius dan berbudaya.
Kesimpulan
Jejak perempuan pengarang dalam tradisi Riau-Lingga adalah bukti nyata dari kecemerlangan peradaban Melayu. Raja Aisyah Sulaiman dengan visi sosialnya dan Khatijah Terung dengan keberanian literasi tubuhnya telah meletakkan batu pertama bagi bangunan emansipasi perempuan di Nusantara.
Mereka mengajarkan bahwa pena adalah senjata paling ampuh untuk melawan ketidakadilan, baik itu ketidakadilan gender di dalam rumah tangga maupun ketidakadilan politik di panggung global. Menemukan kembali jejak mereka bukan sekadar upaya romantisme sejarah, melainkan sebuah keharusan untuk melengkapi kepingan sejarah bangsa yang hilang. Sudah saatnya dawat pena perempuan Riau-Lingga tidak dibiarkan mengering, melainkan terus dialirkan agar menjadi inspirasi bagi generasi-generasi penulis perempuan masa depan.
Biali (Referensi)
[1] Malik, A. 2013. Perempuan Melayu yang tak Pernah Layu. Artikel Humas Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH). Diakses pada Juni ke-21, 2026 dari https://umrah.ac.id/abdul-malik-perempuan-melayu-yang-tak-pernah-layu/
[2] Anggraeni, N. D., & Wiyatmi. 2018. Proses Kreatif Raja Aisyah Sulaiman, Sastrawan Perempuan Feminis Melayu Zaman Peralihan. Diksi, Vol. 26 No. 2. https://doi.org/10.21831/diksi.v26i2.25445
[3] Malik, A. 2020. Aisyah binti Sulaiman. Jantung Melayu. Diakses pada Juni ke-21, 2026 dari https://jantungmelayu.co/2020/09/aisyah-binti-sulaiman/
[4] Anggraeni, N. D., & Azrianti, S. 2021. Gender dan Seksualitas dalam Karya Sastra Perempuan Kerajaan Melayu Riau Lingga pada Abad ke-19. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Vol. 6 No. 1. http://dx.doi.org/10.26737/jp-bsi.v6i1.2008
[5] Yasin, R. 2023. Aroma Feminisme dan Keresahan Sosial. Riau Pos, Edisi 12 November 2023. Diakses pada Juni ke-21, 2026 dari https://riaupos.jawapos.com/kebudayaan/2311120020/aroma-feminisme-dan-keresahan-sosial
No comments: