Aisyah Sulaiman: Simbol Kebangkitan Intelektual Perempuan Melayu yang Dilupakan Negara

Ketika berbicara tentang tokoh perempuan yang memperjuangkan kemajuan kaum wanita di Indonesia, nama Raden Ajeng Kartini hampir selalu menjadi rujukan utama. Namun sejarah Nusantara sesungguhnya menyimpan sosok lain yang sering luput dari perhatian publik: Raja Aisyah binti Raja Sulaiman, seorang perempuan Melayu dari Pulau Penyengat yang telah menunjukkan kapasitas intelektual, keberanian berpikir, dan kemampuan berkarya pada masa ketika pendidikan perempuan masih sangat terbatas.

Raja Aisyah Sulaiman lahir sekitar tahun 1869 di Pulau Penyengat, pusat kebudayaan dan intelektual Kesultanan Riau-Lingga. Ia berasal dari keluarga bangsawan sekaligus keluarga ilmuwan dan sastrawan. Sebagai cucu dari Raja Ali Haji—tokoh besar bahasa dan sastra Melayu—Aisyah tumbuh dalam lingkungan yang menghargai ilmu pengetahuan, penulisan, dan tradisi intelektual. Lingkungan inilah yang membentuk dirinya menjadi salah satu perempuan paling terpelajar di zamannya.

Pada akhir abad ke-19, ketika sebagian besar perempuan di Nusantara masih menghadapi berbagai keterbatasan dalam memperoleh pendidikan formal dan ruang berekspresi, Aisyah telah aktif menulis dan menghasilkan karya sastra. Kehadirannya menjadi fenomena tersendiri karena ia merupakan satu-satunya pengarang perempuan dalam keluarga inti kerajaan Melayu Riau-Lingga pada generasinya. Keberadaannya menunjukkan bahwa perempuan bukan hanya dapat menjadi pembaca atau pengikut arus pemikiran, tetapi juga mampu menjadi pencipta gagasan dan pembentuk wacana masyarakat.

Karya-karya Aisyah, seperti Hikayat Syamsul Anwar, Syair Khadamuddin, Hikayat Syarif al-Akhtar, dan Syair Seligi Tajam Bertimbal, memperlihatkan keluasan wawasan serta keberaniannya dalam menyuarakan perubahan sosial. Meskipun masih menggunakan bentuk sastra tradisional berupa hikayat dan syair, isi karya-karyanya telah mencerminkan semangat zaman baru. Ia membahas perubahan masyarakat Melayu, pergulatan antara tradisi dan modernitas, serta posisi perempuan dalam masyarakat yang sedang mengalami transformasi.

Yang menarik, beberapa peneliti menilai bahwa Hikayat Syamsul Anwar telah memuat gagasan-gagasan emansipasi perempuan yang sangat maju untuk masanya. Melalui karya tersebut, Aisyah menghadirkan tokoh-tokoh perempuan yang memiliki kehendak, keberanian, dan kemampuan mengambil keputusan sendiri. Semangat individualitas dan kesadaran akan martabat perempuan yang muncul dalam karya itu menjadikannya berbeda dari banyak karya Melayu sebelumnya.

Dalam konteks sejarah perempuan Indonesia, fakta ini layak mendapat perhatian lebih besar. Aisyah mulai berkarya pada dekade 1890-an, sementara surat-surat Kartini yang kemudian terkenal baru ditulis pada penghujung abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Kartini menyampaikan gagasannya melalui surat-surat, sedangkan Aisyah menyalurkan pemikirannya melalui karya sastra yang beredar di lingkungan masyarakat Melayu. Jika yang menjadi ukuran adalah keberanian perempuan untuk menulis, menyampaikan gagasan, dan menghadirkan suara perempuan dalam ruang publik, maka nama Aisyah Sulaiman patut ditempatkan dalam sejarah intelektual Nusantara.

Bahkan, dapat dikatakan bahwa Aisyah merupakan salah satu contoh paling awal perempuan Nusantara yang berhasil menunjukkan bahwa pendidikan dan literasi dapat menjadi sarana pemberdayaan perempuan. Ia tidak menulis teori pendidikan secara langsung, tetapi kehidupannya sendiri merupakan bukti nyata pentingnya akses perempuan terhadap ilmu pengetahuan. Melalui kemampuan membaca, menulis, dan menghasilkan karya, ia membuktikan bahwa perempuan dapat menjadi pengarang, pemikir, dan agen perubahan sosial.

Karena itu, sudah saatnya sejarah Indonesia memberi ruang yang lebih luas kepada Raja Aisyah Sulaiman untuk melengkapi narasi sejarah yang selama ini terlalu terpusat pada satu tokoh. Jika Kartini dikenal sebagai simbol perjuangan pendidikan perempuan di Jawa, maka Aisyah Sulaiman layak dikenang sebagai pelopor literasi perempuan Melayu dan salah satu perempuan intelektual paling awal di Nusantara. Ia menunjukkan bahwa jauh sebelum isu pendidikan perempuan menjadi gerakan nasional, telah ada perempuan yang berani berpikir, menulis, dan menyuarakan perubahan melalui pena.

Dalam pengertian itu, Raja Aisyah Sulaiman bukan sekadar seorang sastrawan. Ia adalah simbol bahwa perempuan Nusantara telah lama memiliki tradisi intelektualnya sendiri. Dan ketika kita berbicara tentang sejarah pendidikan perempuan Indonesia, nama Aisyah Sulaiman seharusnya tidak hanya menjadi catatan kaki, melainkan menjadi salah satu tokoh utama yang turut membentuk kesadaran bangsa tentang pentingnya ilmu pengetahuan bagi kaum perempuan.

No comments:

Powered by Blogger.