Paradoks: Tanjung Jabung Timur, Tanah Melayu yang Kaya Sumber Daya Alam Namun Rata-rata Lama Bersekolahnya Terendah di Provinsi Jambi
Di tengah berbagai kabar tentang pembangunan infrastruktur, investasi, dan pertumbuhan ekonomi, ada satu angka yang semestinya membuat kita berhenti sejenak. Angka itu bukan mengenai inflasi, bukan pula pertumbuhan ekonomi daerah, melainkan rata-rata lama sekolah masyarakat Tanjung Jabung Timur. Data tersebut menunjukkan bahwa kabupaten ini masih menjadi daerah dengan tingkat pendidikan terendah di Provinsi Jambi pada tahun 2025.
Dinas Pendidikan Tanjung Jabung Timur
Ironi ini semakin terasa karena Tanjung Jabung Timur bukanlah daerah yang miskin potensi. Kabupaten yang menghadap langsung ke Selat Malaka ini memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, mulai dari sektor perikanan, perkebunan kelapa, migas, hingga berbagai potensi ekonomi pesisir lainnya. Namun, semua kekayaan tersebut tampaknya belum sepenuhnya mampu diterjemahkan menjadi peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Pendidikan sering kali kalah menjadi perhatian dibanding proyek-proyek fisik yang hasilnya dapat langsung dilihat. Padahal, jika ingin membangun daerah yang benar-benar maju, pembangunan manusia seharusnya menjadi prioritas pertama. Jalan dapat dibangun dalam hitungan bulan, pelabuhan dapat selesai dalam beberapa tahun, tetapi membangun manusia memerlukan waktu puluhan tahun.
Angka yang Tidak Bisa Lagi Diabaikan
Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 mencatat bahwa rata-rata lama sekolah (RLS) penduduk laki-laki di Kabupaten Tanjung Jabung Timur hanya mencapai 8,00 tahun, sementara perempuan 7,48 tahun. Angka tersebut merupakan yang terendah di antara seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Jambi.
Sebagai perbandingan, rata-rata lama sekolah laki-laki di Provinsi Jambi mencapai sekitar 9,20 tahun, sedangkan perempuan 8,70 tahun. Kota Jambi bahkan telah mencapai 11,74 tahun untuk laki-laki dan 11,54 tahun untuk perempuan. Kota Sungai Penuh berada tidak jauh di belakang dengan 11,28 tahun dan 10,63 tahun.
Kabupaten lain pun menunjukkan capaian yang lebih baik. Kerinci mencatat rata-rata lama sekolah laki-laki sebesar 9,45 tahun, Bungo 9,14 tahun, Merangin 8,93 tahun, Muaro Jambi 8,93 tahun, Sarolangun 8,92 tahun, Batang Hari 8,77 tahun, Tanjung Jabung Barat 8,72 tahun, hingga Tebo 8,36 tahun. Pada kelompok perempuan pun, tidak ada satu pun daerah yang berada di bawah Tanjung Jabung Timur.
Sekilas, selisih satu atau dua tahun mungkin tampak kecil. Namun dalam dunia pendidikan, satu tahun tambahan berarti kesempatan lebih besar untuk menyelesaikan pendidikan menengah, memperoleh keterampilan yang lebih baik, meningkatkan kemampuan literasi, serta membuka akses terhadap pekerjaan yang lebih layak. Selisih tersebut akan memengaruhi kualitas tenaga kerja dan daya saing daerah selama bertahun-tahun ke depan.
Data ini seharusnya tidak dipandang sebagai sekadar statistik tahunan. Ia merupakan gambaran nyata mengenai kualitas pembangunan manusia di Tanjung Jabung Timur. Ketika sebuah daerah terus berada di posisi terakhir, sudah saatnya ada evaluasi yang serius.
Paradoks Kabupaten Kaya
Yang membuat persoalan ini semakin memprihatinkan adalah kenyataan bahwa Tanjung Jabung Timur memiliki sumber daya alam yang sangat besar. Kabupaten ini dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil migas, memiliki kawasan perkebunan yang luas, hasil laut yang melimpah, serta posisi geografis yang sangat strategis.
Di wilayah ini beroperasi perusahaan migas seperti PetroChina. Selain itu, terdapat berbagai potensi ekonomi lain, mulai dari sektor perikanan, perkebunan, hingga pengembangan kawasan pesisir. Tidak berlebihan apabila banyak orang menyebut Tanjung Jabung Timur sebagai salah satu daerah yang memiliki modal ekonomi besar di Provinsi Jambi.
Namun sejarah telah berkali-kali menunjukkan bahwa kekayaan alam tidak otomatis menghasilkan masyarakat yang sejahtera. Banyak daerah kaya sumber daya justru tertinggal karena gagal membangun kualitas manusianya. Kekayaan alam hanya menyediakan peluang. Yang menentukan apakah peluang tersebut dapat dimanfaatkan adalah kualitas sumber daya manusia.
Inilah yang menjadi paradoks Tanjung Jabung Timur. Kabupaten ini memiliki kekayaan alam, tetapi kualitas pendidikannya justru tertinggal. Jika kondisi ini terus berlangsung, masyarakat setempat akan semakin sulit menjadi pelaku utama pembangunan di daerahnya sendiri.
Selat Malaka Bukan Sekadar Pemandangan
Tidak banyak kabupaten di Indonesia yang memiliki posisi strategis seperti Tanjung Jabung Timur. Wilayah ini menghadap langsung ke Selat Malaka, salah satu jalur perdagangan internasional tersibuk di dunia. Setiap hari ribuan kapal melintasi kawasan tersebut, membawa barang dari berbagai negara.
Posisi geografis seperti ini seharusnya menjadi keuntungan besar. Peluang perdagangan, logistik, industri maritim, hingga investasi dapat berkembang jauh lebih pesat dibanding banyak daerah lain.
Namun letak strategis saja tidak cukup. Peluang hanya akan dinikmati oleh masyarakat yang memiliki kemampuan untuk mengambilnya. Dunia industri memerlukan tenaga kerja terampil. Pelabuhan memerlukan operator profesional. Dunia usaha memerlukan akuntan, teknisi, insinyur, tenaga kesehatan, dan berbagai profesi lain yang lahir dari pendidikan.
Tanpa pendidikan yang memadai, masyarakat lokal hanya akan menjadi penonton ketika peluang ekonomi datang ke daerahnya sendiri.
Jangan Sampai Orang Melayu Hanya Menjadi Penonton
Masyarakat Melayu telah lama menjadi penghuni utama kawasan pesisir timur Jambi. Mereka memiliki sejarah panjang sebagai pelaut, pedagang, dan masyarakat yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Semangat itu seharusnya tetap hidup hingga hari ini.
Sayangnya, rendahnya tingkat pendidikan berpotensi membuat masyarakat lokal kehilangan kesempatan untuk mengambil peran dalam pembangunan. Ketika perusahaan memerlukan tenaga ahli, mereka tentu akan mencari lulusan yang memiliki kompetensi sesuai keperluan. Jika tenaga kerja lokal belum mampu memenuhi standar tersebut, perusahaan akan mendatangkan pekerja dari daerah lain.
Tidak ada yang salah dengan mobilitas tenaga kerja. Namun akan sangat disayangkan apabila masyarakat Tanjung Jabung Timur hanya memperoleh pekerjaan dengan keterampilan rendah, sementara posisi-posisi strategis diisi oleh orang luar.
Jangan sampai masyarakat Melayu hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri. Kekayaan alam Tanjung Jabung Timur seharusnya juga menjadi jalan bagi lahirnya generasi Melayu yang berpendidikan tinggi, mampu memimpin perusahaan, menjadi akademisi, insinyur, dokter, guru, birokrat, pengusaha, hingga inovator yang membangun daerahnya sendiri.
Pendidikan Adalah Investasi, Bukan Beban
Sering kali pembangunan daerah lebih mudah diukur dari proyek-proyek fisik. Jalan baru dapat difoto. Gedung baru dapat diresmikan. Jembatan baru dapat menjadi kebanggaan pemerintah daerah.
Sebaliknya, hasil investasi di bidang pendidikan tidak langsung terlihat. Anak yang hari ini masuk sekolah dasar baru akan benar-benar memberikan dampak sekitar lima belas hingga dua puluh tahun kemudian ketika memasuki dunia kerja. Karena manfaatnya baru dirasakan dalam jangka panjang, pendidikan sering kali kalah bersaing dengan program-program yang hasilnya lebih cepat terlihat.
Padahal justru pendidikan merupakan investasi yang memberikan keuntungan paling besar. Setiap tambahan tahun sekolah akan meningkatkan produktivitas tenaga kerja, memperluas kesempatan kerja, mengurangi angka kemiskinan, serta memperkuat daya saing daerah.
Jika ingin mengejar ketertinggalan, Tanjung Jabung Timur harus mulai menempatkan pendidikan sebagai investasi utama, bukan sekadar pelengkap pembangunan.
Semua Pihak Memiliki Tanggung Jawab
Meningkatkan kualitas pendidikan tentu bukan hanya tugas pemerintah daerah. Orang tua memiliki tanggung jawab memastikan anak-anak tetap bersekolah. Guru menjadi ujung tombak yang menentukan kualitas pembelajaran di ruang kelas. Tokoh masyarakat dapat membangun budaya yang menghargai pendidikan. Dunia usaha pun memiliki ruang untuk berkontribusi melalui program beasiswa, pelatihan, maupun peningkatan fasilitas pendidikan.
Namun pemerintah daerah tetap memiliki peran paling besar dalam menentukan arah kebijakan. Anggaran pendidikan harus benar-benar menyentuh keperluan masyarakat. Bantuan bagi siswa kurang mampu perlu diperluas. Program pencegahan putus sekolah harus diperkuat. Daerah-daerah yang sulit dijangkau juga harus memperoleh perhatian yang sama agar akses pendidikan menjadi lebih merata.
Perusahaan-perusahaan besar yang menikmati manfaat dari sumber daya alam Tanjung Jabung Timur juga patut memberikan perhatian lebih terhadap pembangunan manusia. Program tanggung jawab sosial perusahaan tidak semestinya hanya diwujudkan dalam bentuk pembangunan fisik. Beasiswa bagi pelajar berprestasi, perpustakaan, laboratorium sekolah, pelatihan guru, hingga pengembangan keterampilan generasi muda merupakan investasi yang dampaknya akan dirasakan jauh lebih lama.
Saatnya Berhenti Berbangga pada Potensi
Selama ini Tanjung Jabung Timur sering dibanggakan karena kekayaan alam dan letak geografisnya. Kebanggaan itu memang memiliki dasar. Namun potensi hanya akan tetap menjadi potensi apabila tidak diikuti dengan pembangunan manusia.
Data BPS tahun 2025 semestinya menjadi pengingat bahwa masih ada pekerjaan rumah yang sangat besar. Kabupaten ini tidak kekurangan sumber daya alam, tetapi masih memerlukan perhatian yang jauh lebih serius terhadap kualitas pendidikan.
Tidak ada daerah yang mampu maju hanya dengan mengandalkan minyak, gas, hasil laut, ataupun perkebunan. Semua kekayaan tersebut pada akhirnya memerlukan manusia yang cerdas untuk mengelolanya. Jika kualitas manusianya tertinggal, maka kekayaan alam justru lebih banyak dinikmati oleh mereka yang datang dari luar.
Sudah waktunya pemerintah, dunia usaha, sekolah, orang tua, dan seluruh masyarakat menjadikan pendidikan sebagai agenda bersama. Bukan karena mengejar peringkat statistik semata, tetapi karena pendidikan adalah fondasi bagi masa depan daerah.
Tanjung Jabung Timur memiliki semua syarat untuk menjadi kabupaten yang maju. Kekayaan alamnya ada. Letaknya strategis. Potensi ekonominya besar. Yang perlu dibangun sekarang adalah manusianya. Sebab pada akhirnya, kemajuan sebuah daerah tidak ditentukan oleh apa yang tersimpan di bawah tanahnya, melainkan oleh kualitas orang-orang yang hidup di atasnya. Dan kualitas itu selalu berawal dari satu hal yang sama, yaitu pendidikan.
Referensi
Badan Pusat Statisktik. Rata-rata Lama Sekolah (RLS) menurut Jenis Kelamin (Tahun), 2025. Diakses pada Juni ke-24 2026 dari https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/NDU5IzI=/rata-rata-lama-sekolah--rls--menurut-jenis-kelamin--tahun-.html
Reviewed by Rumbuŋ Paŋaraŋ
on
Juni 25, 2026
Rating: 5











