03:00 Waktu Sabak
Pantau kabar terbaru Riaw Sabak hari ini | Pembaruan berjalan dari meja redaksi |

Batam Perkuat Jejaring Dunia Melayu Melalui Kenduri Seni Melayu 2026

Batam, Riaw Sabak — Ribuan masyarakat memadati Dataran Engku Putri, Batam Centre, selama 3–5 Juli 2026 ketika Pemerintah Kota Batam kembali mengadakan Kenduri Seni Melayu (KSM) untuk yang ke-27. Perhelatan budaya yang telah menjadi agenda tahunan tersebut menghadirkan sekitar 60 pertunjukan seni, melibatkan seniman dari berbagai daerah di Indonesia, sekaligus mempertemukan delegasi budaya dari Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand. Di tengah citra Batam sebagai kota industri, perdagangan, dan investasi, Kenduri Seni Melayu kembali memperlihatkan wajah lain kota ini sebagai salah satu simpul penting kebudayaan Melayu di kawasan Asia Tenggara [1][2].

Kenduri Seni Batam 2026
Penampilan pada malam puncak Kenduri Seni Melayu 2026 di Batam.
Foto oleh Rengga Yuliandra/Batam Pos

Selama tiga hari penyelenggaraan, Dataran Engku Putri berubah menjadi ruang pertemuan masyarakat dari berbagai latar belakang. Sejak petang hari, kawasan alun-alun dipenuhi pengunjung yang datang bersama keluarga untuk menyaksikan rangkaian pertunjukan seni yang berlangsung hingga malam. Anak-anak mengenakan tanjak dan busana Melayu, kelompok pemuda mengabadikan suasana di depan panggung utama, sementara masyarakat memenuhi area bazar kuliner dan stan ekonomi kreatif yang menjadi bagian dari festival. Di atas panggung, pertunjukan demi pertunjukan bergantian ditampilkan, mulai dari tari tradisional, musik Melayu, silat, pantun, hingga pameran seni rupa yang menjadikan Kenduri Seni Melayu bukan sekadar hiburan, melainkan ruang perjumpaan budaya yang hidup di tengah masyarakat.

Batam Mengukuhkan Diri sebagai Ruang Pertemuan Budaya Melayu

Berbeda dengan banyak festival budaya yang lebih berfokus pada peserta lokal, Kenduri Seni Melayu tahun ini kembali menghadirkan keikutsertaan negara-negara serumpun. Delegasi dari Johor dan Sabah di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand tampil bersama sanggar-sanggar seni dari berbagai provinsi di Indonesia, termasuk Riau, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, serta Sanggar Tari Laksamana dari Pekanbaru. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa kebudayaan Melayu masih menjadi titik temu yang mempererat hubungan antarmasyarakat di kawasan, sekaligus memperkaya pertukaran pengalaman di antara para pelaku seni yang berasal dari latar geografis berbeda namun memiliki akar budaya yang sama [1][3][4].

Salah satu penampilan pada Seni Kenduri Melayu di Batam 2026.
Foto oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata pada Batam Pos

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata, mengatakan Kenduri Seni Melayu telah beberapa kali masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN), kalender event unggulan nasional Kementerian Pariwisata. Menurutnya, kehadiran peserta mancanegara merupakan bagian dari upaya memperkuat posisi Batam sebagai gerbang pariwisata budaya di kawasan. Ia menjelaskan bahwa Kenduri Seni Melayu tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga menjadi ruang diplomasi budaya melalui pertemuan para seniman dari berbagai negara serumpun. "Kami mengharapkan KSM terus memperkuat posisi Batam sebagai gerbang pariwisata budaya sekaligus memperkenalkan identitas Melayu ke tingkat internasional," ujar Ardiwinata [1][2].

Dari Tari Jogi hingga Roslan Madun, Menampilkan Wajah Melayu yang Beragam

Penyelenggaraan tahun ini mengusung tema "Menyemai Benih Budaya, Memetik Ranggi Peradaban", sebuah tema yang tercermin dalam keseluruhan rangkaian acara. Festival tidak hanya menghadirkan penampilan seni pertunjukan, tetapi juga memberi ruang bagi berbagai bentuk ekspresi budaya lainnya seperti demonstrasi membatik, live painting, pameran lukisan, permainan rakyat, hingga bazar kuliner dan produk ekonomi kreatif. Dengan demikian, Kenduri Seni Melayu tidak hanya menampilkan kebudayaan sebagai tontonan di atas panggung, tetapi juga memperlihatkan bagaimana tradisi tersebut hadir dalam kehidupan masyarakat melalui karya seni, kerajinan, makanan, dan aktivitas kreatif yang berkembang di sekitarnya.

Salah satu pertunjukan yang mendapat perhatian adalah penampilan Tari Jogi, yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Kota Batam. Dibawakan dengan gerak yang dinamis dan menggambarkan kehidupan masyarakat pesisir Melayu, tarian tersebut disambut tepuk tangan panjang dari ribuan penonton. Setelahnya, Tari Persembahan dari sanggar binaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam menjadi bentuk penghormatan kepada seluruh tamu dan delegasi yang hadir. Pergantian penampilan berlangsung tanpa jeda yang panjang, memperlihatkan keragaman ekspresi seni Melayu yang berkembang di berbagai daerah sekaligus menunjukkan bahwa tradisi tersebut terus hidup melalui generasi-generasi baru yang aktif berkarya.

Suasana festival semakin semarak ketika penyanyi legendaris Malaysia, Roslan Madun, tampil membawakan lagu-lagu Melayu yang telah akrab di telinga masyarakat serumpun. Ribuan penonton ikut bernyanyi bersama mengikuti lagu-lagu bernuansa nostalgia yang dibawakannya. Kehadiran Roslan Madun kemudian dilengkapi penampilan maestro tari Indonesia Didik Nini Thowok, yang memadukan seni tari tradisional, teater, humor, dan ekspresi khasnya dalam sebuah pertunjukan kolaboratif bersama Sanggar Duta Santarina. Penampilan keduanya menjadi salah satu bagian yang paling dinantikan pengunjung karena tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membuka ruang perjumpaan antara seniman lintas negara dan lintas generasi dalam satu panggung budaya.[3]

Budaya Menjadi Penggerak Pariwisata

Selain pertunjukan tari dan musik, tradisi lisan Melayu juga mendapat tempat penting dalam festival ini. Tegak Borak Pantun yang dibawakan Yoan S. Nugraha, Rendra Setyadiharja, dan Zainal Takdir menghadirkan suasana hangat melalui pantun-pantun yang berisi canda, nasihat, hingga kritik sosial. Di bagian lain kawasan festival, pengunjung dapat menyaksikan pameran lukisan yang merekam perjalanan Kenduri Seni Melayu sejak pertama kali diadakan pada 1999 [3]. Deretan karya seniman dari Indonesia maupun Jepang memperlihatkan bagaimana perjalanan festival tersebut diabadikan melalui bahasa visual, sementara di sisi lain stan-stan UMKM dipadati masyarakat yang berburu kuliner khas Melayu, kerajinan tangan, dan berbagai produk ekonomi kreatif lokal.

Bagi Pemerintah Kota Batam, keberadaan Kenduri Seni Melayu tidak hanya berkaitan dengan pelestarian budaya, tetapi juga menjadi bagian dari strategi memperkuat sektor pariwisata berbasis budaya. Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggara Kegiatan Kementerian Pariwisata, Hafiz Agung Rifai, menilai Kenduri Seni Melayu merupakan salah satu agenda unggulan dalam Kharisma Event Nusantara 2026. Menurutnya, posisi Batam yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia memberikan peluang besar untuk mengembangkan pariwisata budaya yang mampu menarik wisatawan sekaligus memperkenalkan jati diri Melayu kepada masyarakat internasional. "Kenduri Seni Melayu bukan sekadar ekspresi seni, tetapi juga panggung untuk memperkenalkan jati diri Melayu kepada dunia," ujarnya [3][4].

Pemerintah Dorong Batam Menjadi Gerbang Pariwisata Budaya Melayu

Komitmen menjadikan Kenduri Seni Melayu sebagai agenda budaya bertaraf internasional juga tercermin dari dukungan pemerintah pusat. Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggara Kegiatan Kementerian Pariwisata, Hafiz Agung Rifai, menilai festival ini memiliki posisi strategis karena tidak hanya menampilkan kekayaan seni dan budaya Melayu, tetapi juga memperkuat citra Batam sebagai pintu masuk pariwisata Indonesia yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia. Menurutnya, penyelenggaraan Kenduri Seni Melayu sejalan dengan upaya pemerintah mengembangkan pariwisata berbasis budaya melalui Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026, yang menghimpun berbagai agenda unggulan dari seluruh Indonesia. Ia menyebut Kenduri Seni Melayu bukan sekadar perayaan seni, tetapi juga panggung yang memperkenalkan jati diri Melayu kepada masyarakat internasional sekaligus memperluas daya tarik Batam sebagai destinasi wisata budaya.

Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, bersama Wakil Wali Kota Batam, Li Claudia Chandra, Ketua TP-PKK Kota Batam, Erlita Amsakar, serta sejumlah pejabat daerah, berfoto bersama para penari dan pengisi acara usai pembukaan KSM 2026 di Dataran Engku Putri, Batam Center, Jumat (3/7). Foto: Humas Diskominfo Batam pada Batam Pos.

Pandangan tersebut diperkuat oleh Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, yang menilai pembangunan ekonomi dan pelestarian budaya tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri. Di hadapan ribuan masyarakat yang menghadiri pembukaan Kenduri Seni Melayu, ia mengatakan Batam selama ini dikenal sebagai kota industri, perdagangan, dan investasi, namun masyarakat juga memerlukan ruang untuk menjaga identitas budayanya. Menurutnya, pembangunan sebuah kota tidak cukup hanya diukur melalui pertumbuhan investasi, tetapi juga dari kemampuannya menyediakan ruang bagi masyarakat untuk berkesenian, berkreasi, dan merawat nilai-nilai yang diwariskan oleh generasi sebelumnya. "Kalau investasi tumbuh luar biasa, masyarakat juga memerlukan ruang untuk berkesenian. Dengan ilmu hidup menjadi mudah, dengan iman hidup menjadi terarah, dan dengan seni hidup menjadi indah," ujarnya [4].

Dalam kesempatan yang sama, Amsakar juga menyampaikan komitmen Pemerintah Kota Batam untuk terus memperkuat infrastruktur kebudayaan. Salah satu langkah yang tengah dipersiapkan ialah pembangunan gedung budaya yang dapat dimanfaatkan berbagai komunitas seni dan paguyuban budaya sebagai ruang berekspresi sekaligus tempat pembinaan generasi muda. Selain itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam juga sedang merancang pembangunan taman budaya sebagai ruang publik yang diharapkan mampu menjadi pusat aktivitas kesenian. Rencana tersebut memperlihatkan bahwa Kenduri Seni Melayu tidak diposisikan sebagai kegiatan seremonial tahunan semata, melainkan bagian dari upaya membangun ekosistem kebudayaan yang berkelanjutan di Kota Batam.[2]

Ruang Berkumpulnya Seniman Serumpun

Kehadiran delegasi dari berbagai negara serumpun menjadi salah satu kekuatan utama Kenduri Seni Melayu tahun ini. Seniman dari Johor dan Sabah di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand tidak hanya datang untuk menampilkan kesenian dari daerah masing-masing, tetapi juga berinteraksi dengan para pelaku seni dari berbagai wilayah di Indonesia. Di luar panggung pertunjukan, para peserta saling berdiskusi mengenai perkembangan seni tradisional, bertukar pengalaman dalam pembinaan sanggar, hingga menjalin hubungan yang diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi pada masa mendatang. Suasana tersebut memperlihatkan bahwa Kenduri Seni Melayu bukan hanya menjadi ruang pertunjukan, tetapi juga ruang silaturahmi bagi masyarakat budaya Melayu yang berasal dari berbagai negara.

Interaksi semacam itu juga terlihat dari keterlibatan para mahasiswa yang diundang mengikuti berbagai rangkaian kegiatan festival. Mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi memperoleh kesempatan menyaksikan secara langsung proses kreatif para maestro seni yang hadir, termasuk penyanyi Malaysia Roslan Madun dan maestro tari Indonesia Didik Nini Thowok. Kehadiran generasi muda menjadi bagian penting dari penyelenggaraan Kenduri Seni Melayu, karena pelestarian budaya tidak hanya bergantung pada penyelenggaraan festival, melainkan juga pada proses pewarisan pengetahuan kepada generasi berikutnya. Dengan mempertemukan pelaku seni senior dan kalangan muda dalam satu ruang, festival ini menghadirkan kesempatan belajar yang sulit diperoleh melalui ruang kelas semata.[1]

Meneguhkan Jati Diri Melayu di Kota Industri

Batam selama ini berkembang sebagai salah satu kota dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Indonesia. Aktivitas industri, perdagangan internasional, dan investasi menjadikan kota ini dikenal sebagai salah satu pusat ekonomi nasional. Namun di balik dinamika tersebut, Kenduri Seni Melayu kembali mengingatkan bahwa Batam juga tumbuh di atas warisan budaya Melayu yang telah lama menjadi identitas kawasan. Melalui festival ini, ruang publik yang biasanya menjadi pusat aktivitas pemerintahan berubah menjadi panggung kebudayaan yang mempertemukan masyarakat dari berbagai usia dan latar belakang untuk merayakan tradisi yang masih hidup di tengah perkembangan kota modern.

Kehadiran ribuan pengunjung sepanjang penyelenggaraan festival menunjukkan bahwa kebudayaan tetap memiliki tempat di tengah masyarakat. Antusiasme itu terlihat dari padatnya area pertunjukan setiap malam, ramainya bazar UMKM dan kuliner, serta tingginya minat masyarakat mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan selama tiga hari. Tidak sedikit pengunjung yang datang bersama keluarga sejak petang hingga malam hari untuk menikmati seluruh rangkaian acara. Bagi para pelaku UMKM, festival ini juga menjadi kesempatan memperkenalkan produk-produk lokal kepada masyarakat maupun tamu dari luar daerah dan luar negeri yang hadir di Batam.

Lebih dari sekadar agenda tahunan, Kenduri Seni Melayu memperlihatkan bagaimana kebudayaan dapat menjadi ruang yang mempertemukan masyarakat tanpa memandang asal daerah maupun kewarganegaraan. Ketika seniman dari berbagai negara tampil di atas panggung yang sama, sementara masyarakat memenuhi kawasan festival untuk menikmati setiap pertunjukan, Batam tidak hanya menjadi tuan rumah sebuah perhelatan seni. Kota ini kembali menunjukkan perannya sebagai salah satu titik pertemuan masyarakat Melayu serumpun, tempat tradisi diwariskan, persahabatan dibangun, dan hubungan budaya terus dipererat melalui bahasa seni yang dipahami bersama. Itulah sebabnya, setelah lebih dari dua dekade penyelenggaraannya, Kenduri Seni Melayu tetap menjadi salah satu agenda budaya paling penting di Batam, sekaligus mengukuhkan posisi kota ini sebagai salah satu gerbang kebudayaan Melayu di kawasan Asia Tenggara.

Referensi

[1] GoKepri. 2026. "Bagaimana Kenduri Seni Melayu Mengangkat Pariwisata Batam?". Diakses pada Juli ke-5 2026 dari https://gokepri.com/bagaimana-kenduri-seni-melayu-mengangkat-pariwisata-batam/

[2] Batam Pos. 2026. "Dari Pantun hingga Lukisan, Nafas Melayu Tetap Berdenyut". Diakses pada Juli ke-5 2026 dari https://metropolis.batampos.co.id/dari-pantun-hingga-lukisan-nafas-melayu-tetap-berdenyut/

[3] Batam Pos. 2026. "Saat Batam Menjelma Panggung Besar Peradaban Melayu". Diakses pada Juli ke-5 2026 dari https://metropolis.batampos.co.id/saat-batam-menjelma-panggung-besar-peradaban-melayu/

[4] Batam Pos. 2026. "Pembukaan Kenduri Seni Melayu Batam 2026, Amsakar Persembahkan Puisi “Uwak”". Diakses pada Juli ke-5 2026 dari https://metropolis.batampos.co.id/pembukaan-kenduri-seni-melayu-batam-2026-amsakar-persembahkan-puisi-uwak/

Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.