03:00 Waktu Sabak
Pantau kabar terbaru Riaw Sabak hari ini | Pembaruan berjalan dari meja redaksi |

Kesalahan Terjemahan Marsihaji sebagai "Tukang Cuci Raja" pada Prasasti Telaga Batu yang Terus Disalin Tanpa Dikritisi

Selama puluhan tahun, masyarakat Indonesia diajarkan bahwa frasa marsī hāji dalam Prasasti Telaga Batu berarti "tukang cuci raja". Terjemahan ini muncul di buku pelajaran, artikel populer, jurnal ilmiah, hingga karya ilmiah mahasiswa. Begitu sering diulang sehingga seolah-olah telah menjadi suatu kebenaran umum.

Namun, benarkah demikian?

Ironisnya, terjemahan yang begitu mapan itu sebenarnya lahir dari sebuah dugaan. Bahkan, sarjana yang pertama kali mengusulkannya sendiri,  J. G. de Casparis, mengakui bahwa tafsir tersebut bersifat conjectural—sekadar perkiraan. Setelah itu, penelitian linguistik yang jauh lebih mendalam justru menunjukkan bahwa dugaan tersebut tidak tepat dari sisi fonologi, morfologi, hingga konteks kalimat. Sayangnya, perkembangan penelitian ini nyaris tidak masuk ke dalam arus utama kajian sejarah di Indonesia.

Prasasti Telaga Batu Marsihaji

Prasasti Telaga Batu

Kasus marsī hāji bukan sekadar soal satu kata dalam sebuah prasasti Melayu abad ke-7. Ia menjadi cermin persoalan yang lebih besar: tradisi akademik yang terlalu sering mewarisi pendapat lama tanpa menelusuri perkembangan penelitian berikutnya. Dugaan berubah menjadi "kebenaran", lalu disalin berulang-ulang tanpa pernah benar-benar diuji kembali.

Dugaan yang Menjadi Fakta

Prasasti Telaga Batu merupakan salah satu prasasti terpenting peninggalan Sriwijaya. Salah satu bagian prasasti berisi daftar pejabat, kelompok masyarakat, dan orang-orang yang diwajibkan bersumpah setia kepada penguasa. Di antara daftar itu terdapat frasa:

... kāyastha, sthāpaka, puhāvam, vaniyāga, pratisara, kamu marsī hāji, hulun hāji...

Pada tahun 1956, J. G. de Casparis menerjemahkan marsī hāji sebagai "washermen of the king" atau "tukang cuci raja".[1]

Yang menarik justru terdapat pada catatan kakinya. De Casparis sendiri menulis bahwa terjemahan tersebut bersifat dugaan (conjectural translation). Ia menduga kata marsī mungkin berhubungan dengan kata Melayu modern bersih. Dari sana ia menyimpulkan bahwa marsī hāji mungkin berarti orang-orang yang membersihkan atau mencuci bagi raja.[1]

Artinya, sejak awal, terjemahan ini bukanlah hasil pembuktian linguistik yang tuntas. Ia merupakan hipotesis awal yang masih terbuka untuk diuji.

Dalam dunia ilmu pengetahuan, hal seperti ini sepenuhnya wajar. Semua hipotesis boleh diajukan. Yang menjadi masalah adalah ketika hipotesis tersebut berhenti diperlakukan sebagai dugaan, lalu diwariskan selama puluhan tahun sebagai fakta tanpa pernah dikaji ulang.

Masalah Pertama: "Mar-" Bukan "Ber-"

Pada pandangan pertama, dugaan De Casparis memang tampak masuk akal. Bahasa Melayu Kuno memang memiliki awalan mar- yang dalam bahasa Melayu modern berubah menjadi ber-.

Namun, di sinilah letak persoalannya.

K. Alexander Adelaar menyadari bahwa perubahan mar- → ber- hanya berlaku pada awalan gramatikal, bukan pada suku awal sebuah kata dasar [2][3].

Dengan kata lain, hubungan antara:

  • marjalan → berjalan

memang merupakan perkembangan bahasa yang normal.

Tetapi hubungan:

  • marsi → bersih

tidak mengikuti pola perubahan bunyi yang sama.

Kata bersih bukanlah kata yang terdiri atas awalan ber- ditambah dasar sih. Bunyi ber pada kata bersih merupakan bagian dari akar leksikalnya sendiri. Karena itu, menggunakan perubahan mar- → ber- untuk membenarkan hubungan marsi dengan bersih merupakan analogi yang keliru [2].

Dengan kata lain, kemiripan bunyi belum tentu menunjukkan hubungan etimologis.

Masalah Kedua: Hilangnya Huruf "H"

Keberatan kedua bahkan lebih mendasar.

Dalam Prasasti Telaga Batu, kata itu ditulis sebagai marsī, tanpa bunyi -h di akhir.

Padahal, aksara Pallawa yang digunakan dalam prasasti tersebut cukup teliti dalam menuliskan bunyi. Jika memang kata itu berhubungan dengan bersih, maka seharusnya masih tampak penanda bunyi -h (visarga), sebagaimana ditemukan pada banyak kosakata Melayu Kuno lainnya [2].

Adelaar menegaskan bahwa bunyi akhir -h dalam Melayu Kuno secara umum memang berkorelasi dengan bunyi -h dalam bahasa Melayu modern. Karena itu, hilangnya bunyi tersebut bukanlah persoalan kecil yang dapat diabaikan begitu saja [2].

Dengan kata lain, secara fonologis hubungan antara marsī dan bersih tidak memiliki dasar yang kuat.

Masalah Ketiga: Konteks Kalimat Tidak Mendukung

Persoalan berikutnya muncul dari isi prasasti itu sendiri.

Bagian tersebut memuat daftar orang-orang yang memiliki hubungan dengan pemerintahan Sriwijaya:

  • juru tulis,

  • arsitek,

  • nakhoda,

  • saudagar,

  • panglima,

  • kemudian marsī hāji,

  • lalu hulun hāji.

Semua kelompok tersebut berkaitan dengan administrasi, militer, perdagangan, atau struktur politik kerajaan.

Di tengah daftar seperti itu, tiba-tiba muncul "tukang cuci raja".

Secara semantik, penyisipan profesi tersebut terasa janggal.

De Casparis memang mencoba menjelaskan bahwa tukang cuci mungkin merupakan kelompok penting karena memiliki akses terhadap lingkungan istana [1]. Akan tetapi, penjelasan ini sendiri menunjukkan bahwa ia harus membuat asumsi tambahan agar terjemahannya tetap masuk akal.

Dalam penelitian sejarah maupun linguistik, apabila sebuah tafsir memerlukan terlalu banyak asumsi tambahan, biasanya tafsir tersebut perlu dipertanyakan kembali.

Adelaar: Marsī Hāji Bukan Tukang Cuci, Melainkan Lingkar Dalam Raja

Pada tahun 1992, K. Alexander Adelaar menawarkan penafsiran yang jauh lebih sistematis.

Alih-alih menghubungkan marsī dengan bersih, ia menelusuri sejarah morfologi bahasa-bahasa Austronesia, terutama bahasa Melayu, Salako, Minangkabau, dan Batak.

Ia menunjukkan adanya bentuk awalan gabungan mar-si- yang berkaitan dengan bentuk Melayu modern ber-si- dan awalan serumpun pada bahasa-bahasa lain. Fungsi bentuk ini bukan berarti "membersihkan", melainkan menunjukkan hubungan timbal balik (reciprocal) atau saling memperlakukan satu sama lain [2].

Karena itu, mar-si-hāji lebih tepat dipahami sebagai:

"orang-orang yang saling memperlakukan sebagai haji (raja)"

atau

"lingkar dalam raja",

"anggota istana",

"kerabat raja",

"orang-orang dekat raja" [2].

Penafsiran ini jauh lebih sesuai dengan konteks daftar pejabat kerajaan yang terdapat dalam Prasasti Telaga Batu.

Waruno Mahdi Menguatkan Kritik Itu

Kajian Adelaar tidak berhenti sebagai pendapat tunggal.

Dalam bab mengenai Melayu Kuno pada buku The Austronesian Languages of Asia and Madagascar, Waruno Mahdi mengikuti analisis Adelaar.

Mahdi menerjemahkan mar-si-hāji sebagai:

"those who share the same king"

atau

"the king's own countrymen." [4]

Mahdi juga membedakan secara jelas antara:

  • mar-si-hāji (orang-orang yang berbagi raja yang sama), dan

  • hulun hāji (hamba atau bawahan raja) [4]

Perbedaan ini penting. Jika marsī hāji memang berarti "tukang cuci raja", maka sulit menjelaskan mengapa istilah tersebut dipisahkan dari hulun hāji. Sebaliknya, apabila marsī hāji menunjukkan kelompok elit yang memiliki hubungan khusus dengan raja, maka penyandingannya dengan hulun hāji menjadi jauh lebih logis.

Mengapa Kesalahan Ini Terus Bertahan?

Yang paling menarik justru bukan lagi soal linguistik.

Pertanyaannya adalah: mengapa setelah kritik Adelaar diterbitkan lebih dari tiga puluh tahun lalu, terjemahan lama masih mendominasi literatur Indonesia?

Jawabannya tampaknya sederhana.

Banyak penulis mengutip karya-karya terdahulu tanpa kembali menelusuri perkembangan penelitian terbaru.

Akibatnya, terjemahan lama terus diwariskan.

Sebagai contoh, beberapa karya ilmiah dan tulisan populer masih menerjemahkan marsī hāji sebagai "tukang cuci raja" tanpa membahas kritik linguistik yang telah diajukan Adelaar maupun Mahdi [5][6][7][8].

Daftar tersebut tentu bukan untuk menyalahkan penulis-penulisnya. Sebaliknya, ia menunjukkan bagaimana sebuah informasi dapat terus hidup karena saling dikutip, bukan karena terus diuji.

Dalam dunia akademik, fenomena seperti ini dikenal luas. Ketika satu sumber menjadi rujukan utama, sumber-sumber berikutnya sering kali mengutipnya tanpa memeriksa apakah penelitian yang lebih baru telah merevisi kesimpulan tersebut.

Masalah yang Lebih Besar dari Sekadar Satu Kata

Kasus marsī hāji sebenarnya mengajarkan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar arti sebuah kata.

Ia memperlihatkan lemahnya budaya kajian literatur di Indonesia.

Banyak penelitian berhenti pada membaca buku berbahasa Indonesia atau karya-karya lama yang telah lama menjadi rujukan baku. Padahal, dalam disiplin seperti linguistik sejarah, perkembangan penelitian justru banyak terjadi dalam jurnal internasional yang menggunakan bahasa Inggris.

Ironisnya, penelitian Adelaar diterbitkan pada 1992. Mahdi kembali menegaskannya pada 2005. Artinya, koreksi ilmiah terhadap terjemahan lama sudah tersedia selama puluhan tahun.

Namun, dalam banyak tulisan Indonesia, yang terus diwariskan justru dugaan tahun 1956.

Ini bukan persoalan kemampuan individu. Ini adalah persoalan budaya akademik.

Ilmu pengetahuan berkembang melalui koreksi. Ketika sebuah hipotesis dibantah oleh bukti yang lebih kuat, maka hipotesis itu seharusnya diperbarui. Jika tidak, kita hanya sedang mengulang pengetahuan lama, bukan menghasilkan pemahaman yang lebih baik.

Saatnya Membaca Ulang Prasasti Melayu Kuno

Prasasti Telaga Batu merupakan salah satu sumber utama sejarah Melayu dan Sriwijaya. Karena itu, setiap kata di dalamnya memiliki arti penting untuk memahami struktur sosial, politik, dan budaya kerajaan tersebut.

Kasus marsī hāji menunjukkan bahwa kemajuan ilmu sering kali datang bukan dari penemuan prasasti baru, melainkan dari keberanian membaca ulang bukti lama dengan metode yang lebih baik.

Terjemahan "tukang cuci raja" mungkin memiliki nilai historis sebagai hipotesis awal De Casparis. Namun, setelah muncul kritik fonologis, morfologis, dan komparatif dari Adelaar yang kemudian diperkuat Mahdi, sudah saatnya dunia akademik Indonesia memberikan ruang yang lebih besar bagi pembacaan baru tersebut.

Lebih dari itu, kasus ini menjadi pengingat bahwa tradisi ilmiah yang sehat bukanlah tradisi yang paling sering mengutip, melainkan tradisi yang paling rajin memeriksa kembali apa yang selama ini dianggap benar. Sebab, sejarah tidak hanya ditulis oleh mereka yang menemukan bukti, tetapi juga oleh mereka yang berani mempertanyakan apakah bukti itu telah dibaca dengan benar.

Sudah saatnya dunia akademik Indonesia lebih rajin membuka jurnal-jurnal internasional, menelusuri perkembangan penelitian, dan berani merevisi kesimpulan yang memang telah dipatahkan oleh argumentasi yang lebih kuat. Sebab, jika dugaan terus diwariskan hanya karena terus disalin, maka yang sedang kita rawat bukan tradisi ilmiah, melainkan tradisi mengulang kesalahan.


Referensi

[1] De Casparis, J. G. 1956. Prasasti Indonesia II: Selected Inscriptions from the 7th to the 9th Century A.D.

[2] Adelaar, K. A. 1992. The Relevance of Salako for Proto-Malayic and for Old Malay Epigraphy. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 148(3/4), 381–408.

[3] Cakep Malayu. "Apa Arti Kata "Marsi" dalam Prasasti Telaga Batu?". Diakses pada Juli ke-3 2026 dari https://www.cakepmalayu.com/2023/05/apa-arti-kata-marsi-dalam-prasasti.html

[4] Mahdi, W. 2005. "Old Malay." Dalam K. A. Adelaar & N. P. Himmelmann (Ed.), The Austronesian Languages of Asia and Madagascar. Routledge.

[5] Suswandari, S.; Absor, N. F.; Aprilia, D.; Nurahman. L. Noviansyah, A. 2021. Pemanfaatan Situs Sejarah Buddhisme di Palembang sebagai Sumber Pembelajaran Sejarah. Journal Of Social Sciences & Humanities “Estoria”, 1(2), 71-93. https://doi.org/10.30998/je.v1i2.599

[6] Edi Suhardono, S. 2023. Kebijakan Kemaritiman Indonesia Formulasi dan Implementasi. Malang: PT Literasi Nusantara Abadi Grup.

[7] Noor, S. 2013 "Prasasti Telaga Batu 1 (pertengahan abad ke-7 M)". Kompasiana (2013). Diakses pada Juli ke-3 2026 dari https://www.kompasiana.com/syamsulnoor/552a92eef17e613421d623ca/prasasti-telaga-batu-1-pertengahan-abad-ke-7-m

[8] Hapidi, Wanada. 2020. Pembangunan Pada Masa Kedatukan Sriwijaya. Khazanah: Jurnal Sejarah Dan Kebudayaan Islam, 10(1), 61–68.

Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.