03:00 Waktu Sabak
Pantau kabar terbaru Riaw Sabak hari ini | Pembaruan berjalan dari meja redaksi |

Pendidikan, Sains, dan Teknologi adalah Jalan Utama untuk Mengembalikan Martabat Melayu

"Bangsa yang terus hidup bukanlah bangsa yang paling banyak mengenang masa lalunya, melainkan yang paling serius membangun masa depannya."

Di setiap pertemuan tentang sejarah Melayu, hampir selalu kita mendengar kisah-kisah yang membanggakan tentang Kedatukan Sriwijaya dan Kesultanan Melaka yang menjadi pusat perdagangan dunia, tentang Kesultanan Johor-Riau-Lingga yang melahirkan tradisi intelektual Melayu, tentang bahasa Melayu yang menjadi lingua franca Lintas Nusa, menghubungkan pelabuhan-pelabuhan dari Aceh hingga Maluku. Tak luput pula tentang karya sastra, hukum, diplomasi, hingga tokoh-tokoh besar seperti Raja Ali Haji yang meletakkan dasar tata bahasa Melayu modern.

Ilustrasi Revolusi budaya intelektual Melayu menuju sains dan teknologi modern

Semua itu benar, dan semua itu patut dibanggakan. Namun, ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar mengulang kisah kejayaan tersebut.

Setelah itu, apa?

Apakah kebanggaan terhadap sejarah akan otomatis membuat anak-anak Melayu hari ini menjadi ilmuwan? Apakah menghafal nama-nama sultan akan membuat kita menguasai kecerdasan buatan (artificial intelligence), bioteknologi, semikonduktor, atau teknologi antariksa? Apakah terus-menerus mengingat kejayaan masa lalu akan membuat universitas-universitas di wilayah Melayu menjadi pusat riset kelas dunia?

Jawabannya jelas: tidak.

Sudah saatnya masyarakat Melayu berhenti menjadikan sejarah sebagai tempat tinggal. Sejarah seharusnya menjadi pijakan untuk melompat lebih jauh, bukan kursi nyaman untuk terus diduduki.

Melayu bukanlah bangsa kecil. Ia adalah bangsa besar yang dalam perjalanan sejarahnya diperkecil dan dipecah-pecah oleh perubahan politik, kolonialisme, dan lahirnya batas-batas negara modern. Ironisnya, yang paling sering melupakan kebesaran itu justru orang Melayu sendiri. Padahal ketika di sejumlah wilayah Lintas Nusa suku-suku lain masih ada yang wanitanya bertelanjang dada, bahkan di beberapa kawasan masih ada yang mempraktikkan kanibalisme, yang dibuktikan dengan dokumentasi etnografi oleh para penjelajah dan fotografer kolonial Eropa, dunia Melayu justru telah mengenal kerajaan maritim, hukum, diplomasi, tradisi literasi, dan bahasa yang menjadi penghubung perdagangan di seluruh kepulauan. Leluhur Melayu dihormati bukan semata karena kekuasaan, tetapi karena berhasil membangun sebuah peradaban.

Melayu Pernah Menjadi Bangsa yang Maju karena Menguasai Pengetahuan

Ada kesalahpahaman yang sering muncul ketika membicarakan sejarah Melayu. Banyak orang mengira kejayaan Melayu semata-mata lahir karena perdagangan rempah atau letak geografis yang strategis.

Padahal tidak sesederhana itu!

Perdagangan internasional tidak mungkin berkembang tanpa kemampuan administrasi. Diplomasi tidak mungkin berlangsung tanpa bahasa yang mapan. Kerajaan tidak mungkin bertahan tanpa sistem hukum. Sastra tidak mungkin berkembang tanpa budaya literasi.

Melayu menjadi besar justru karena berhasil membangun peradaban yang teratur.

Bahasa Melayu menjadi bahasa perdagangan internasional bukan karena dipaksakan dengan kekuatan militer, melainkan karena memiliki struktur yang cukup baik untuk menjadi alat komunikasi lintas bangsa. Hikayat, kitab hukum, surat-menyurat diplomatik, hingga karya-karya keagamaan menunjukkan bahwa masyarakat Melayu telah mengenal tradisi menulis dan berpikir jauh sebelum lahirnya negara-negara modern di kawasan ini. Artinya, leluhur Melayu dihormati bukan karena nostalgia.

Mereka dihormati karena menghasilkan sesuatu yang berguna bagi zamannya.

Ironisnya, Kini Banyak yang Hanya Bangga pada Masa Lalu

Di sinilah ironi terbesar.

Semakin sering kita berbicara tentang kejayaan Melayu, semakin sedikit kita berbicara tentang bagaimana membangun kejayaan baru.

Media sosial dipenuhi kutipan sejarah. Seminar-seminar dipenuhi romantisme tentang kerajaan Melayu. Diskusi budaya berlangsung hampir setiap minggu. Namun di saat yang sama, berapa banyak diskusi tentang kecerdasan buatan? Berapa banyak pembicaraan mengenai robotika? Tentang rekayasa genetika? Tentang energi nuklir? Tentang teknologi kuantum? Tentang industri semikonduktor?

Masih sangat sedikit!

Seolah-olah kebanggaan terhadap masa lalu telah menjadi pengganti kerja keras membangun masa depan. Padahal, leluhur Melayu sendiri tidak pernah hidup dalam nostalgia. Mereka adalah pembangun zamannya. Mereka berdagang melintasi lautan, menyusun kitab hukum, menulis karya sastra, mengembangkan administrasi pemerintahan, serta menyerap ilmu dari berbagai peradaban. Kalau mereka hanya sibuk membanggakan nenek moyangnya, mungkin sejarah Melayu tidak pernah mencapai kejayaan yang kini kita banggakan.

Dunia Tidak Menghormati Bangsa karena Leluhurnya

Inilah kenyataan yang kadang pahit untuk diterima. Dunia modern tidak memberikan penghormatan berdasarkan siapa nenek moyang kita. Dunia menghormati siapa yang mampu menciptakan teknologi.

Negara-negara yang hari ini dihormati adalah negara yang menghasilkan pengetahuan baru. Mereka membangun universitas, laboratorium, perusahaan teknologi, pusat riset, industri semikonduktor, hingga program antariksa.

Lihat bagaimana Jepang bangkit setelah kehancuran Perang Dunia II. Korea Selatan yang pada pertengahan abad ke-20 merupakan negara miskin kini menjadi kekuatan teknologi dunia. Singapura yang tidak memiliki sumber daya alam berhasil menjadi pusat pendidikan, penelitian, dan inovasi. Mereka tidak menghabiskan energi untuk sekadar mengenang masa lalu. Mereka menginvestasikan masa depan melalui pendidikan.

Pendidikan adalah Bentuk Nasionalisme yang Paling Nyata

Banyak orang mengira nasionalisme diwujudkan melalui pidato, slogan, atau pakaian adat. Semua itu tentu memiliki tempatnya. Tetapi nasionalisme yang paling nyata adalah memastikan generasi berikutnya memiliki pendidikan yang lebih baik daripada generasi sebelumnya.

Seorang anak Melayu yang menjadi ahli kecerdasan buatan sedang mengangkat martabat bangsanya. Seorang insinyur Melayu yang merancang teknologi energi baru sedang mengangkat martabat bangsanya. Seorang dokter Melayu yang menemukan metode pengobatan baru sedang mengangkat martabat bangsanya. Seorang ilmuwan Melayu yang menerbitkan penelitian internasional sedang mengangkat martabat bangsanya. Martabat tidak dibangun oleh kata-kata. Martabat dibangun oleh karya!

Terlalu Lama Terjebak pada Identitas

Ada kecenderungan lain yang patut dikritik. Sebagian masyarakat Melayu terlalu sibuk memperdebatkan identitas.

Siapa yang lebih Melayu? Siapa yang paling asli? Siapa yang keturunannya paling dekat dengan bangsawan? Siapa yang paling memahami adat?

Perdebatan seperti ini mungkin menarik bagi sebagian orang, tetapi hampir tidak memberi dampak nyata terhadap kualitas hidup masyarakat. Anak-anak tidak akan memperoleh pekerjaan karena silsilah keluarganya. Perusahaan teknologi tidak merekrut insinyur berdasarkan gelar adat. Universitas terbaik di dunia tidak menerima mahasiswa berdasarkan garis keturunan.

Yang dinilai adalah kemampuan!

Yang dihargai adalah kompetensi!

Yang memenangkan persaingan adalah ilmu!

Sains dan Teknologi adalah Bahasa Kekuasaan Abad ke-21

Jika bahasa Melayu dahulu menjadi bahasa perdagangan internasional, maka bahasa dunia pada abad ke-21 adalah sains dan teknologi. Negara yang menguasai kecerdasan buatan akan memimpin ekonomi global. Negara yang menguasai semikonduktor akan mengendalikan industri elektronik. Negara yang unggul dalam bioteknologi akan menentukan arah masa depan kesehatan, sementara mereka yang menguasai teknologi antariksa akan memiliki keunggulan strategis di bidang pertahanan, komunikasi, dan eksplorasi. Tidak satu pun pencapaian itu lahir dari pidato-pidato kebudayaan atau romantisme sejarah. Semuanya lahir dari laboratorium, universitas, perpustakaan, budaya membaca yang kuat, guru-guru yang dihargai, serta orang tua yang menjadikan pendidikan sebagai investasi terbesar bagi anak-anaknya.

Mengembalikan Tradisi Intelektual Melayu

Seruan untuk "mengembalikan kejayaan Melayu" hampir selalu terdengar dalam berbagai diskusi kebudayaan. Sayangnya, seruan itu sering kali berhenti pada romantisme sejarah. Padahal yang perlu dikembalikan bukanlah kerajaan-kerajaan yang telah lama runtuh, bukan istana-istana yang kini menjadi situs sejarah, dan bukan pula kebanggaan terhadap masa silam semata. Yang harus dihidupkan kembali adalah tradisi intelektual yang pernah menjadi jantung peradaban Melayu: tradisi yang menempatkan ilmu di atas kebanggaan, membaca di atas kemalasan, menulis di atas sekadar bercerita, berdiskusi di atas saling menyalahkan, serta keberanian belajar dari siapa pun demi kemajuan bersama. Dahulu, semangat itulah yang mengangkat dunia Melayu menjadi salah satu pusat intelektual penting di kawasan ini. Jika kita sungguh-sungguh ingin mengembalikan martabat Melayu, maka yang harus dibangun kembali bukan masa lalunya, melainkan semangat yang dahulu melahirkan kejayaan itu. Inilah yang harus menjadi fondasi kebangkitan Melayu pada abad ke-21.

Jangan Takut Belajar dari Siapa Pun

Ada satu pelajaran penting yang dapat dipetik dari sejarah Melayu: peradaban Melayu tidak pernah tumbuh dalam keterasingan. Justru sebaliknya, ia berkembang karena keterbukaannya terhadap dunia. Leluhur Melayu belajar dari India, menyerap pengaruh dunia Arab dan Persia, berdagang dengan Cina, kemudian berinteraksi dengan Eropa. Namun mereka tidak sekadar meniru. Semua pengaruh itu diolah, disesuaikan, dan akhirnya melahirkan suatu peradaban yang tetap memiliki jati diri Melayu.

Karena itu, masyarakat Melayu hari ini seharusnya berhenti merasa cukup hanya dengan membanggakan sejarah. Belajarlah dari Jepang tentang disiplin dan adab kerja, dari Korea Selatan tentang keberanian berinvestasi pada pendidikan, dari Finlandia tentang membangun sistem sekolah yang berkualitas, dari Amerika Serikat tentang inovasi dan budaya riset, serta dari Cina tentang bagaimana sebuah bangsa dapat mengejar ketertinggalan melalui penguasaan sains dan teknologi. Ilmu pengetahuan tidak mengenal batas suku, bangsa, ataupun agama. Siapa pun yang bersungguh-sungguh mencarinya berhak menjadi besar karenanya.

Saatnya Mengubah Definisi Kebanggaan Melayu

Sudah waktunya kebanggaan Melayu memiliki ukuran yang baru. Kita tentu tetap berhak berbangga memiliki tokoh-tokoh besar seperti Raja Ali Haji dan tetap bangga akan sejarah kerajaan-kerajaan Melayu yang pernah menjadi pusat peradaban di kawasan ini, yang telah mewariskan tradisi intelektual yang kaya. Namun kebanggaan itu tidak boleh berhenti sebagai warisan yang hanya dikenang. kebanggaan itu seharusnya menjadi titik awal, bukan garis akhir. Kita harus memliki ambisi melahirkan Raja Ali Haji abad ke-21, yaitu para ilmuwan-ilmuwan kelas dunia, membangun universitas yang menjadi rujukan dan pusat riset internasional, bukan sekadar tempat membagikan ijazah, serta memastikan generasi muda Melayu menguasai matematika, fisika, kimia, biologi, pemrograman komputer, kecerdasan buatan, robotika, dan berbagai bidang teknologi yang akan menentukan masa depan peradaban dunia modern. Sebab, penghormatan internasional pada abad ke-21 tidak lagi diberikan kepada bangsa yang hanya mewarisi sejarah besar, melainkan kepada bangsa yang mampu menghasilkan ilmu pengetahuan baru, teknologi, dan inovasi.

Masa Depan Melayu Tidak Akan Dibangun oleh Nostalgia

Tidak ada yang salah dengan mencintai sejarah. Yang keliru adalah ketika kita berhenti di sana, seolah-olah kejayaan leluhur sudah cukup untuk menjamin kehormatan generasi hari ini. Sejarah seharusnya menjadi bahan bakar yang mendorong kita melangkah lebih jauh, bukan alasan untuk berpuas diri. Kita tidak bisa terus menghibur diri dengan mengatakan bahwa Melayu dahulu pernah besar, sementara pada saat yang sama masih banyak anak-anak Melayu yang kesulitan memperoleh pendidikan berkualitas, budaya membaca belum benar-benar mengakar, dan profesi ilmuwan, peneliti, atau insinyur belum menjadi cita-cita yang banyak diimpikan oleh generasi muda.

Kalau benar kita mencintai Melayu, berhentilah sekadar mewarisi kebanggaan. Mulailah mewarisi semangat membangun. Jangan hanya bangga karena leluhur pernah menulis kitab, tulislah buku yang akan dibaca dunia. Jangan hanya bangga karena bahasa Melayu pernah menjadi bahasa perdagangan, jadikan anak-anak Melayu pencipta teknologi yang dipakai dunia. Jangan hanya mengenang kejayaan kerajaan, bangun kejayaan baru melalui universitas, laboratorium, dan pusat-pusat riset. Sebab sejarah tidak pernah menghormati bangsa yang hidup dari nostalgia. Sejarah hanya menghormati bangsa yang mampu menciptakan masa depannya sendiri.

Jika benar kita mencintai Melayu, maka cinta itu harus diwujudkan dalam tindakan yang nyata. Dorong anak-anak membaca lebih banyak, bangun perpustakaan yang hidup, perkuat sekolah, hormati guru, biayai riset, hargai ilmuwan, bangun perusahaan-perusahaan teknologi, dan kirimkan generasi muda terbaik menuntut ilmu di universitas-universitas terbaik dunia. Jadikan laboratorium sama pentingnya dengan balai adat, karena keduanya memiliki peran yang sama dalam menjaga martabat bangsa: yang satu menjaga warisan leluhur, sementara yang lain membangun warisan bagi masa depan. Martabat Melayu pada abad ke-21 tidak akan kembali hanya melalui romantisme sejarah. Ia akan kembali ketika anak-anak Melayu berdiri di garis depan ilmu pengetahuan, menemukan teknologi baru, memimpin penelitian dunia, dan membuktikan bahwa semangat intelektual leluhur mereka masih hidup, bukan sekadar dalam cerita, melainkan dalam karya yang mengubah dunia.

Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.